Lokakarya Diseminasi Hasil Kajian Pendapatan Layak untuk Pekebun Sawit Mandiri Aceh

BAPPEDA Aceh menyelenggarakan lokakarya diseminasi hasil kajian pendapatan layak untuk pekebun sawit mandiri di Provinsi Aceh di aula lantai 4 Kantor Bappeda Provinsi Aceh pada 21 April 2026. Acara dibuka oleh Plt. Sekretaris BAPPEDA Aceh, Mahdinarmansyah, S.STP, M.M, Dr. Hasrati, SE, MM dari Bappeda Aceh, dan Ibu Anne dari IDH. HAkA turut hadir dalam acara tersebut. Berdasar kerangka acuan kegiatan dijelaskan bahwa petani kecil atau perkebunan rakyat, baik plasma maupun swadaya, mengelola lebih dari 42% lahan kelapa sawit di Indonesia dan sekitar 52% dari total lahan kelapa sawit di Provinsi Aceh, menjadikan Petani kecil sebagai “pusat” produktivitas dan keberlanjutan jangka panjang sektor ini. Akan tetapi, ekspansi kelapa sawit yang pesat juga telah menimbulkan berbagai tantangan serius, yang meliputi deforestasi, konflik kepemilikan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan emisi gas rumah kaca.
Provinsi Aceh termasuk dalam sepuluh besar produsen Kelapa sawit di Indonesia. Luas lahan perkebunannya mencapai sekitar 3,36% dari total luas perkebunan di Indonesia dan menyumbang sekitar 2,14% dari produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional. Menurut BPS (2024), provinsi ini memiliki total luas lahan penghasil minyak sawit sebesar 471.357 hektar pada tahun 2023, tersebar di 19 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Luas lahan ini terus bertambah, dengan tambahan 93.778 hektar yang tercatat masih dalam proses verifikasi pada tahun yang sama.
Di Aceh, petani kecil menyumbang bagian terbesar dari perkebunan, yaitu 52% dari total luas perkebunan, dan dengan demikian memainkan peran penting dalam menjaga produksi lokal dan mata pencaharian masyarakat pedesaan. Sayangnya, 17% dari petani kecil ini hidup dalam
kemiskinan. Petani kecil sering kali rentan terhadap fluktuasi harga minyak sawit global.
Dalam konteks tersebut di atas, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) berupaya mewujudkan produksi berkelanjutan di Indonesia, mengumpulkan para pelaku minyak sawit global menuju produksi minyak sawit berkelanjutan, sekaligus meningkatkan akses pasar dan pendapatan layak bagi petani kecil. Kajian Pendapatan Layak (LI) menggunakan Metodologi Anker®, yang dikembangkan oleh Richard dan Martha Anker, yang diakui secara global sebagai standar emas untuk memperkirakan upah layak (Living Wage/LW) dan pendapatan layak (Living Income/LI). Metodologi Anker bertujuan untuk memperkirakan biaya standar hidup yang layak bagi pekerja dan produsen/petani serta keluarga mereka.
Kajian ini bertujuan untuk memperkirakan acuan pendapatan hidup layak pada masyarakat penghasil kelapa sawit di Aceh ini dilaksanakan oleh Anker Research Institute dan Yayasan Aceh Hijau dengan pendanaan dari IDH. Area studi di 3 Kabupaten, yaitu Aceh Timur, Aceh Tamiang dan Nagan Raya. Tujuan dari acara tersebut adalah memaparkan hasil kajian Standar Penghidupan Layak untuk Petani Sawit kecil di Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Nagan Raya.
