• 12 August, 2026
  • Comments Off on Dari Banjir ke Pembibitan: Perempuan Menumbuhkan Kembali Harapan

Dari Banjir ke Pembibitan: Perempuan Paya Rabo Lhok Menumbuhkan Kembali Harapan

November 2025 menjadi waktu yang sulit dilupakan bagi warga Desa Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Banjir bandang dengan ketinggian air mencapai sekitar dua belas meter merendam rumah, kebun, dan pekarangan warga. Pepohonan yang telah dirawat selama bertahun-tahun hilang dalam waktu singkat. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari bertani dan berkebun, yang hanyut bukan hanya tanaman, tetapi juga sumber penghidupan yang selama ini menopang keluarga mereka.

Dari Banjir ke Pembibitan 1

Rumah warga yang terendam banjir bandang

Berbulan-bulan setelah air surut, kehidupan perlahan mulai berjalan kembali. Rumah dapat dibersihkan dan pekarangan dapat ditata, tetapi menghidupkan kembali kebun membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Pohon yang hilang harus ditanam dari awal dan dirawat bertahun-tahun sebelum kembali menghasilkan. Di tengah proses itu, masyarakat tidak hanya sedang memulihkan lahan yang rusak, tetapi juga berusaha membangun kembali kehidupan yang sempat terhenti.

Di tengah proses pemulihan itu, Kelompok Perempuan Bungong Baroena bersama HAkA mengembangkan rumah pembibitan atau nursery. Dibangun dengan ukuran 12 x 9 meter, nursery ini mampu menampung hingga 10.000 bibit yang nantinya dapat digunakan untuk membantu menghidupkan kembali kebun dan pekarangan warga.

Di tempat sederhana ini, bibit-bibit mulai disiapkan untuk kelak kembali ditanam. Nursery juga menjadi ruang bagi para perempuan untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan memperkuat kemampuan menghasilkan bibit secara mandiri. Sebuah langkah untuk menumbuhkan kembali apa yang hilang—dimulai dari satu bibit, kemudian satu kebun, dan perlahan satu kehidupan.

Pada 11 Juli 2026, ratusan bibit tiba di Paya Rabo Lhok untuk digunakan dalam pelatihan pembibitan. Suasana di sekitar nursery yang sebelumnya tenang mendadak ramai. Anggota Kelompok Perempuan Bungong Baroena berdatangan dan, tanpa diminta, ikut menurunkan bibit dari kendaraan. Ada yang mengangkat polybag, menyusun bibit, dan menyiapkan tempat penyimpanan. Kesibukan sederhana itu memperlihatkan satu hal: ada semangat besar untuk mulai menanam kembali.

Dari Banjir ke Pembibitan 2

Anggota kelompok gotong royong membangun nursery

Di tengah aktivitas tersebut, Nurwida, Ketua Kelompok Perempuan Bungong Baroena, berdiri memperhatikan bibit-bibit yang mulai memenuhi nursery.

“Ini salah satu pancingan untuk masyarakat,” katanya. “Orang di sini senang melihat bibit untuk ditanam.”

Bagi Nurwida, kehadiran bibit bisa menjadi awal untuk menggerakkan kembali warga setelah banyak tanaman di kebun dan pekarangan mereka hilang akibat banjir. Melihat bibit tersedia berarti melihat kemungkinan untuk kembali menanam—dan perlahan membangun kembali sumber penghidupan yang sempat hilang.

Namun, memiliki bibit saja belum cukup. Kelompok juga perlu memahami bagaimana menghasilkan dan merawat bibit yang baik secara mandiri. Karena itu, para anggota mengikuti pelatihan pembibitan bersama Armiadi, Kepala Stasiun Restorasi Tenggulun dari Forum Konservasi Leuser. Mereka belajar mulai dari menyiapkan media tanam dan mengelola rumah pembibitan hingga mempraktikkan teknik sambung pucuk atau grafting untuk menghasilkan bibit dengan karakter unggul.

Dari Banjir ke Pembibitan 3

Peserta sedang mempraktikkan sambung pucuk pada bibit jambu dan kakao

Armiadi menjelaskan bahwa bibit unggul tidak selalu harus didatangkan dari luar daerah. Banyak sumber bibit sebenarnya sudah tersedia di sekitar masyarakat, selama mereka tahu bagaimana memilih dan memperbanyaknya.

“Bibit unggul itu sebenarnya ada di sekitar kita. Tidak harus dibeli jauh-jauh. Yang perlu kita pelajari adalah bagaimana mendapatkannya,” jelasnya.

Salah satu teknik yang dipraktikkan adalah sambung pucuk atau grafting. Melalui teknik ini, pucuk dari pohon yang memiliki sifat baik dapat disambungkan dengan batang bawah yang sehat. Dengan begitu, masyarakat memiliki peluang untuk menghasilkan bibit berkualitas dari sumber yang tersedia di sekitar mereka sendiri.

Bagi sebagian peserta, praktik tersebut ternyata tidak benar-benar asing. Seorang anggota kelompok berusia sekitar lima puluh tahun tiba-tiba mengangkat tangan.

“Saya pernah membuat ini di bunga kertas,” katanya sambil tersenyum.

Ucapan sederhana itu mengubah suasana belajar. Teknik yang sedang dipraktikkan ternyata bersentuhan dengan pengetahuan yang pernah mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan itu tidak hilang; ia hanya perlu dipanggil kembali, dibagikan, dan dikembangkan bersama.

Hari itu, tangan-tangan yang terbiasa mengurus rumah, kebun, dan keluarga mulai mencoba menyambungkan pucuk jambu dan kakao satu per satu. Tidak semuanya langsung sempurna. Tetapi setiap bibit yang selesai disambung menjadi hasil dari keberanian untuk mencoba kembali.

Foto bersama anggota kelompok dengan masing-masing bibit yang telah disambung pucuk

Seminggu kemudian, anggota kelompok kembali berkumpul di nursery. Mereka memeriksa satu per satu bibit yang sebelumnya telah disambung. Dari beberapa pucuk, tunas-tunas muda mulai muncul.

Tunas itu menjadi tanda bahwa penyambungan berhasil.

Bagi kelompok, keberhasilan kecil tersebut terasa berarti. Mereka tidak hanya melihat tanaman mulai tumbuh, tetapi juga melihat bahwa keterampilan yang baru dipelajari dapat mereka praktikkan sendiri. Dari sana, nursery perlahan mulai menjadi lebih dari sekadar tempat menyimpan bibit. Ia menjadi ruang untuk belajar, mencoba, dan membangun kepercayaan bahwa mereka mampu menyiapkan sebagian kebutuhan tanaman untuk kebun mereka sendiri.

Dari Banjir ke Pembibitan 5

Bibit hasil sambung pucuk mulai tumbuh

Tunas itu menjadi tanda bahwa penyambungan berhasil.

Bagi kelompok, keberhasilan kecil tersebut terasa berarti. Mereka tidak hanya melihat tanaman mulai tumbuh, tetapi juga melihat bahwa keterampilan yang baru dipelajari dapat mereka praktikkan sendiri. Dari sana, nursery perlahan mulai menjadi lebih dari sekadar tempat menyimpan bibit. Ia menjadi ruang untuk belajar, mencoba, dan membangun kepercayaan bahwa mereka mampu menyiapkan sebagian kebutuhan tanaman untuk kebun mereka sendiri.

 

Admin HAkA

Postingan Terkait