Overview Kegiatan Bu-Moe? Fest 2025

Acara Puncak Bumoe Fest 2025
Bu-Moe? Fest hadir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan anak muda, seniman, komunitas, dan organisasi untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu lingkungan serta perlindungan satwa liar di Aceh melalui seni, budaya, dan kreativitas. Nama “Bu-Moe?” berasal dari bahasa Aceh, yaitu “bu” yang memiliki makna nasi atau kera, serta “moe” yang berarti menangis. Filosofi tersebut sengaja diangkat sebagai simbol yang mengundang publik untuk menafsirkan maknanya secara mandiri sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan satwa liar.
Melalui berbagai rangkaian kegiatan, Bu-Moe? Fest 2025 menunjukkan bahwa kampanye lingkungan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui pendekatan yang kreatif, partisipatif, dan inklusif. Festival ini tidak hanya menyampaikan pesan-pesan pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk belajar, berdiskusi, berefleksi, dan terlibat secara langsung dalam upaya perlindungan hutan serta satwa liar di Aceh.
Adapun rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan selama penyelenggaraan Bu-Moe? Fest 2025 adalah sebagai berikut:
Pendekatan Seni
Pendekatan seni dalam Bu-Moe? Fest 2025 menjadi medium kampanye kreatif yang menghubungkan pesan pelestarian lingkungan dengan ekspresi artistik yang emosional, visual, dan mudah diterima publik. Melalui seni pertunjukan, musik, mural, dan seni rupa, isu perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser dikemas secara komunikatif agar mampu membangun kedekatan emosional antara audiens dan isu lingkungan.
- Teater Bumoe
Pertunjukan teater bertema ekologis yang menyampaikan pesan konservasi melalui pendekatan dramatik dan visual yang kuat. Teater ini menjadi salah satu segmen yang paling diapresiasi karena mampu menggugah refleksi audiens terhadap hubungan manusia dan alam. - Penampilan Puncak oleh Guest Star Utama
Penampilan utama oleh Rafly Kande dan Orangutan Squad menjadi daya tarik besar dalam Bu-Moe? Fest. Selain menghadirkan hiburan musikal, keduanya menyampaikan pesan pelestarian lingkungan melalui karya dan narasi yang relevan dengan semangat kampanye Leuser. - Komunitas Seni Lokal
Partisipasi komunitas seni lokal seperti Sanggar Alam Rimba, Sanggar Geunta Nanggroe, dan Mozaik Community memperkuat pesan kampanye melalui pertunjukan tari, musik tradisional, dan ekspresi artistik yang mencerminkan relasi harmonis antara budaya dan alam. - Workshop Seni Rupa (Cetak Cukil)
Workshop seni cetak cukil bertema “Uteun Aceh Ken Lampoh Soh” mengajak peserta menerjemahkan pesan pelestarian alam ke dalam karya visual yang komunikatif. Kegiatan ini menggabungkan seni, edukasi, dan aksi nyata melalui rencana pengembangan desain menjadi produk kampanye. - Live Mural Painting
Live mural painting menghadirkan ruang ekspresi visual kolaboratif yang menyampaikan pesan pelestarian lingkungan secara terbuka di ruang publik. Mural ini menjadi simbol kampanye yang reflektif, komunikatif, dan meninggalkan jejak visual jangka panjang.
Pendekatan Edukasi
Pendekatan edukasi menjadi pilar utama Bu-Moe? Fest 2025 dalam membangun pemahaman kritis, kesadaran ekologis, dan kapasitas publik terhadap isu lingkungan di Aceh. Melalui forum diskusi, seminar, workshop, dan kegiatan edukatif berbasis komunitas, pendekatan ini memperkuat pengetahuan peserta dari perspektif sosial, hukum, konservasi, hingga teknologi.
- Aceh Youth Environment Conference (AYEC 2025)
Aceh Youth Environment Conference (AYEC 2025) merupakan forum kolaboratif yang mempertemukan anak muda dari berbagai organisasi, sekolah, dan universitas di Aceh, seperti Sekolah Alam Leuser, Earth Hour Banda Aceh, Kami Sahabat Leuser, Bank Sampah USK, UIN Ar-Raniry, dan Green Youth Movement. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi, pertukaran gagasan, dan penguatan peran generasi muda dalam perlindungan lingkungan. AYEC 2025 turut menghadirkan Davina Veronica (CEO & Co-Founder Natha Satwa Nusantara) dan Tezar Pahlevie (Coordinator of Investigation and Law Enforcement Yayasan HAkA) sebagai pembicara. - Aksi Penanaman Pohon Memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia
Kegiatan penanaman pohon sebagai bentuk aksi nyata memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia sekaligus mendorong kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga ekosistem dan keberlanjutan lingkungan. - FGD Kesenjangan Sosial Dampak Tambang di Aceh
Forum diskusi yang membahas dampak sosial pertambangan di Aceh, membuka ruang dialog kritis mengenai ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, dan pentingnya pengawasan kebijakan pertambangan. - Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia di Pos Baca YCB Aceh
Kegiatan edukatif untuk anak-anak melalui storytelling dan aktivitas kreatif yang bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem Leuser. - Legal Discussion ALSA LC USK
Diskusi hukum yang membahas penguatan kerangka hukum perlindungan satwa liar dan keanekaragaman hayati, sekaligus mendorong perspektif hukum yang lebih progresif terhadap isu konservasi. - Seminar Badak 2025
Seminar konservasi yang menyoroti pentingnya perlindungan badak Sumatera sebagai spesies kunci dalam ekosistem dan bagian penting dari warisan ekologis Indonesia. - Workshop Teknologi Pemantauan Hutan
Workshop teknis yang memperkenalkan pemanfaatan teknologi geospasial, ArcGIS Pro, dan UAV (drone) untuk mendukung pemantauan hutan dan pengelolaan lingkungan berbasis data.
Pendekatan Dakwah
Pendekatan dakwah digunakan sebagai strategi kampanye untuk menghubungkan pelestarian lingkungan dengan nilai-nilai spiritual dan moral. Melalui pendekatan ini, isu ekologis diposisikan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan, sehingga pesan lingkungan dapat diterima lebih dekat oleh masyarakat melalui kerangka religius.
- Dakwah Ekologis
Kegiatan dakwah yang mengaitkan ajaran Islam dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga alam dan melindungi satwa liar, serta menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi. - FGD Membangun Kesadaran Ekologis dari Sekolah, Komunitas, dan Majelis Taklim
Forum diskusi partisipatif yang mempertemukan sekolah, komunitas, dan institusi keagamaan untuk membangun strategi kolaboratif dalam menanamkan kesadaran ekologis berbasis pendidikan, komunitas, dan nilai keagamaan.
Pendekatan Kompetisi
Pendekatan kompetisi dirancang untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda melalui ruang kreatif yang kompetitif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan media digital. Pendekatan ini membuka ruang bagi publik untuk menyuarakan isu lingkungan melalui karya kreatif yang komunikatif dan berdampak luas.
- Lomba Visualisasi Data Tutupan Hutan dan Putusan Perdagangan Satwa Liar
Kompetisi visualisasi data yang mengajak peserta mengolah data lingkungan menjadi dashboard informatif dan komunikatif untuk memperkuat advokasi publik berbasis data. - Lomba Voice Over
Kompetisi kreatif berbasis suara yang mengajak peserta menyuarakan pesan pelestarian Leuser melalui storytelling, monolog, dan narasi audio sebagai medium kampanye digital yang lebih dekat dengan publik.
Beragam kegiatan yang diselenggarakan, berhasil menciptakan ruang interaksi yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, Bu-Moe? Fest lebih dari sekadar festival, kegiatan menjadi ruang tumbuh bagi gerakan bersama, tempat gagasan bertemu dengan aksi, dan pesan lingkungan diterjemahkan menjadi keterlibatan nyata. Dengan semangat kolaborasi, kreativitas, dan keberlanjutan, Bu-Moe? Fest menegaskan bahwa menjaga Leuser bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga menjaga masa depan dan warisan bersama.

