Aceh Youth Environment Conference (AYEC) 2025
Aceh Youth Environment Conference (AYEC) 2025 menjadi salah satu platform strategis dalam rangkaian Bu-Moe? Fest 2025 yang mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang untuk memperkuat kapasitas, memperluas jejaring, serta membangun kolaborasi dalam upaya perlindungan lingkungan di Aceh. Kehadiran AYEC 2025 menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata dalam mendukung pelestarian hutan serta keanekaragaman hayati, khususnya di Kawasan Ekosistem Leuser.

Dokumentasi Kegiatan Aceh Youth Environmental Conference, Bu-Moe? 2025
Kegiatan yang diselenggarakan pada 26 Juni 2025 ini diikuti oleh 94 peserta yang terdiri atas 43 laki-laki dan 51 perempuan, berasal dari berbagai organisasi, sekolah, dan perguruan tinggi di Aceh, di antaranya Sekolah Alam Leuser, Earth Hour Banda Aceh, Kami Sahabat Leuser, Bank Sampah USK, UIN Ar-Raniry, dan Green Youth Movement. AYEC 2025 juga menghadirkan Davina Veronica dan Tezar Pahlevie sebagai narasumber yang membagikan pengalaman, pengetahuan, serta perspektif mengenai perlindungan satwa liar, penegakan hukum lingkungan, dan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam upaya konservasi.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta terlibat aktif dalam diskusi tematik, sesi berbagi pengalaman, serta penyusunan Buku Rekomendasi AYEC 2025 yang memuat gagasan, aspirasi, dan tuntutan kolektif generasi muda untuk memperkuat upaya penyelamatan hutan dan satwa liar di Aceh. Dokumen rekomendasi tersebut akan ditindaklanjuti melalui audiensi dengan 25 lembaga pemerintah dan lembaga internasional yang memiliki kewenangan dalam pengambilan kebijakan, termasuk Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera dan Balai KSDA Aceh.

Foto Bersama AYEC dalam Acara Puncak Bumoe Fest 2025
Melalui AYEC 2025, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan wawasan baru mengenai isu-isu lingkungan, tetapi juga memperkuat komitmen bersama untuk terlibat secara aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan di Aceh. Forum ini menjadi titik awal lahirnya kolaborasi yang lebih erat antargenerasi muda, memperluas jejaring advokasi, serta menegaskan posisi mereka sebagai aktor strategis dalam mendorong kebijakan dan aksi nyata untuk penyelamatan hutan, satwa liar, dan keberlanjutan Kawasan Ekosistem Leuser.

