• 25 Agustus 2026
  • Komentar Dinonaktifkan pada Karhutla Semester 1 Capai 3 Kali Luas Singapura: Mapbiomas Fire

Karhutla Semester 1 Capai 3 Kali Luas Singapura: Mapbiomas Fire

Sejumlah wilayah luput dari perhatian, ternyata mengalami lonjakan karhutla yang signifikan.

Oleh: Kennial Laia

BETAHITA.ID – Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nasional selama enam bulan pertama 2026 mencapai lebih dari 170 ribu hektare atau setara tiga kali luas Singapura.

Data terbaru ini dirilis oleh Mapbiomas Fire dalam koleksi terbarunya, Senin, 24 Agustus 2026 di Jakarta. Platform ini merupakan inisiatif pemetaan kebakaran berbasis citra satelit dan klasifikasi deep learning yang dipimpin Auriga Nusantara bersama sembilan jaringan organisasi masyarakat sipil dan Woods and Wayside International.

Para peneliti dan analis data memberikan gambaran komprehensif terbaru mengenai kebakaran yang saat ini tengah merangsek berbagai wilayah Indonesia.

Koordinator Teknis Mapbiomas Fire Indonesia Sesilia Maharani Putri mengatakan, total area terbakar selama periode Januari-Juni 2026 mencapai 178.232 hektare. Pulau Kalimantan memiliki akumulasi luas area terbakar tertinggi, seluas 37.665 hektare, disusul Bali dan Nusa Tenggara seluas 33.338 hektare, dan Papua seluas 25.946 hektare.

Sementara itu, berdasarkan luas area terbakar per provinsi, Nusa Tenggara Timur menjadi area dengan luas area terbakar tertinggi di Indonesia, yang mencapai luas 25.629 hektare. Kemudian disusul oleh Kalimantan Barat seluas 25.629 hektare, dan Papua Selatan seluas 15.626 hektare.

Berdasarkan tutupan lahan, Mapbiomas Fire menemukan 53 persen kebakaran terjadi di area non hutan, 30 persen di area agrikultur, serta mangrove, kebun kayu, dan sawah.

“Kami melihat di mana kebakaran terjadi dan kaitannya dengan tutupan lahan. Ternyata lebih dari 50 persen area kebakaran terjadi di tutupan alami, termasuk savana dan semak. Jumlahnya sangat besar, dan ini paling rentan terbakar,” kata Sesilia saat membuka acara peluncuran koleksi data terbaru Mapbiomas Fire, Senin, 24 Agustus 2026, di Jakarta.

Lahan gambut dan mineral menjadi dua tutupan lahan yang paling banyak terbakar, termasuk di Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Papua, Sumatera, Sulawesi, Jawa, dan Maluku.

Dalam peluncuran tersebut, Mapbiomas Fire Indonesia juga meluncurkan produk terbarunya, yakni data dan peta area terbakar bulanan 2026 yang dapat diakses langsung di platform-nya.

Ketua Auriga Nusantara Timer Manurung mengatakan, kehadiran data bulanan ditujukan agar kebakaran terasa lebih mendesak dan dapat ditangani lebih awal, tanpa harus menunggu apinya membesar terlebih dahulu.

“Kami berharap, semakin dekat datanya, maka semakin cepat responsnya,” kata Timer.

Timer mengatakan, kehadiran data bulanan juga menyediakan gambaran yang lebih komprehensif dan kontekstual mengenai karhutla di Indonesia. Ada sejumlah wilayah, yang jika analisis data karhutla secara bulanan, menunjukkan temuan yang mengejutkan.

Pada Juni 2026, misalnya, lonjakan area terbakar terjadi di Jawa, Bali-Nusa Tenggara, serta Tanah Papua. Sementara itu 50 persen area terbakar sepanjang bulan ini terpusat di Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua.

“Artinya, jangan-jangan banyak tempat lain yang sedari awal perlu kita perhatikan. Karena itu kami menyimpulkan, bahwa semakin pendek kekosongan (data) tadi, maka kita dapat semakin detil melihatnya,” kata Timer.

Tujuh Temuan Kunci MapBiomas Fire

1. Area terbakar meningkat tajam menjelang pertengahan tahun. Lonjakan area terbakar pada Juni 2026 tercatat 173 persen dibanding Mei, mengindikasikan musim karhutla 2026 baru memasuki fase eskalasi pada saat data ini dirilis.

2. Terjadi anomali di Nusa Tenggara Timur, yang tercatat sebagai provinsi dengan luas terbakar tertinggi nasional, mencapai 26.591 hektare. Angka ini melampaui Kalimantan Barat (25.629 hektare) yang selama ini mendominasi liputan media dan perhatian kebijakan. Pulau Bali-Nusa Tenggara secara agregat menyumbang 18,70 persen luas terbakar nasional (33.338 ha), yang hampir menyamai Kalimantan (21,13 persen).

3. Luas area terbakar di kawasan gambut mencakup 22 persen dari total nasional, yakni 40.016 hektare. Hampir 90 persen terkonsentrasi di Kalimantan dan Sumatera.

4. Kawasan hutan dan konservasi juga mengalami kebakaran, seluas 82.662 hektare. Sebanyak 46 persen di antaranya terjadi di dalam hutan negara. Sebanyak 179 unit kawasan konservasi — 39 taman nasional dan 140 kawasan konservasi non-taman nasional — turut mengalami kebakaran, dipimpin Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (2.802 hektare) dan Lorentz (1.698 hektare).

5. Sebanyak 36.389 hektare area terbakar terdeteksi berada di 2.638 wilayah izin usaha. Luas kebakaran tertinggi terjadi di izin sawit (16.816 hektare), tambang (9.538 hektare), kebun kayu (5.997 hektare), dan konsesi HPH/logging (3.753 hektare).

6. Sebanyak 14 persen dari total nasional (25.053 hektare) area terbakar terjadi di lahan yang sebelumnya mengalami deforestasi pada periode 2001–2025. Hampir 90 persen teridentifikasi di Kalimantan dan Sumatera, yang dipimpin Kalimantan Barat (9.964 hektare) dan Riau (5.716 hektare). Pola ini memberi bukti kuantitatif bahwa lahan yang baru dideforestasi menjadi sangat berpotensi untuk terbakar.

7. Sebanyak 13 persen area terbakar terjadi di lokasi proyek pangan strategis, yakni hutan hutan yang dialihfungsikan untuk cadangan pangan, food estate, atau program cetak sawah rakyat. Kabupaten Merauke menyumbang 36 persen dari seluruh area terbakar kategori ini atau mencapai 8.084 hektare.

8. Kebakaran hutan dan lahan kali ini memberikan dampak signifikan bagi perlindungan habitat ikonik dan dilindungi, dengan total area terbakar seluas 11.442 hektare. Wilayah ini tersebar di berbagai provinsi dan telah ditetapkan sebagai habitat spesies ikonik seperti harimau, badak, gajah, dan orang utan.

Artikel ini pernah tayang dan baca selengkapnya di betahita.id

Album Foto Kegiatan :

Sumber Foto : HAkA

Admin HAkA

Related Posts