HAkA berupaya untuk memperkuat perlindungan, konservasi, dan pemulihan Hutan Aceh tersisa dan berfokus di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kami secara aktif mempromosikan pentingnya KEL sebagai salah satu bentang alam utama untuk solusi berbasis alam.
Dapatkan informasi terbaru, Daftarkan email Anda !
Jam Kerja: Sen-Jum'at 09.00-17.00 WIB
Copyright © 2026. All Rights Reserved.
HAkA berupaya untuk memperkuat perlindungan, konservasi, dan pemulihan Hutan Aceh tersisa dan berfokus di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kami secara aktif mempromosikan pentingnya KEL sebagai salah satu bentang alam utama untuk solusi berbasis alam.
Dapatkan selalu informasi terbaru, Daftarkan email Anda di sini !
Jam Kerja: Sen-Jum'at, 09.00-17.00 WIB
Copyright © 2026. All Rights Reserved.
HAkA berupaya untuk memperkuat perlindungan, konservasi, dan pemulihan Hutan Aceh tersisa dan berfokus di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kami secara aktif mempromosikan pentingnya KEL sebagai salah satu bentang alam utama untuk solusi berbasis alam.
Dapatkan informasi terbaru, Daftarkan email Anda !
Jam Kerja: Sen-Jum'at, 09.00-17.00 WIB
Copyright HAkA © 2026. All Rights Reserved.
  • 1 Januari, 2026
  • Komentar Dinonaktifkan pada Lautan Kayu di Geudumbak, Langkahan, Aceh Utara
Siaran Pers

Bencana Ekologis Banjir Besar dan Longsor Dahsyat di Aceh Membawa Lumpur dan Kayu Hutan hingga ke Permukiman Penduduk

Banjir Besar dan longsor dahsyat di Aceh yang terjadi akhir November 2025 kemarin dipicu curah hujan ekstrim yang terjadi ketika siklon tropis Senyar mendarat di Aceh, pulau Sumatera. Ribuan longsor terjadi di perbukitan dan pegunungan di hulu DAS. Tanah dan pepohonan hutan longsor dan terbawa arus hingga ke hilir. Tingkat keparahan bencana ini juga semakin berat diduga memiliki unsur campur tangan manusia. Deforestasi dan degradasi di DAS Aceh telah terjadi sejak lama.

Tumpukan Gelondongan Kayu Sisa Banjir di Desa Geudumbak, Langkahan, Aceh Utara

Banjir dan longsor yang terjadi di Aceh pada akhir bulan November 2025 kemarin merupakan kejadian yang luar biasa. Curah hujan yang lebat bahkan ekstrem terus menerus berhari-hari terjadi di Aceh terutama di bagian timur Aceh. Hujan lebat tersebut dipicu oleh terbentuknya bibit siklon tropis yang dinamai 95B di selat Malaka. Menurut BMKG bibit siklon tropis ini terbentuk 21 November 2025. Berdasarkan pantauan mereka pada 22 November 2025, bibit siklon tersebut ada potensi melemah dan bergerak mengarah ke timur - tenggara. Rilis peringatan bibit siklon juga disebar BMKG Aceh dalam Whatsapp Group "Info Klimatologi Aceh" pada 23 November 2025.

Hujan dan banjir sebenarnya hal yang lumrah terjadi di Aceh, pada hari - hari tersebut sudah terjadi hujan dan banjir juga di Kota Bahagia, Aceh Selatan. Namun ternyata pada tanggal 25 November 2025, beberapa anggota grup melaporkan bahwa hujan yang ada di daerahnya semakin mengkhawatirkan, tidak berhenti 24 jam lebih dan telah mengakibatkan banjir dan longsor. Itu terjadi di Aceh Utara, Aceh Tengah dan Langsa. Semakin malam, semakin mencekam karena hujan awet tanpa henti.

Kita dapat memantau kondisi pergerakan siklon Senyar ini melalui website zoom.earth. Awalnya siklon ini diprediksi akan bergerak mengikuti arah jarum jam sesuai kebiasaan siklon di utara khatulistiwa. Setelah bergerak dari selat Malaka ke arah barat menuju Langsa, awalnya diprediksi siklon akan bergerak ke utara yaitu ke Lhokseumawe atau Banda Aceh. Namun, anomali terjadi, siklon bergerak ke selatan, berlawan jarum jam dan mengarah ke Medan kemudian bergerak ke timur ke arah Malaysia.

Dini hari foto video banjir besar merendam rumah penduduk dari Aceh Utara dan berita dari Pidie Jaya telah masuk dalam grup. Pada dini hari tanggal 26 November 2025 tersebut JTWC (Joint Typhoon Warning Center) yang dapat dilihat melalui zoom.earth telah menetapkan peningkatan status dari bibit siklon 95B menjadi siklon tropis 04B. BMKG pada hari yang sama juga merilis berita bahwa bibit siklon telah berevolusi menjadi siklon tropis Senyar. Permukiman penduduk banyak terdampak banjir dahsyat hingga menenggelamkan rumah, jalan nasional maupun yang lainnya banyak tidak dapat dilewati karena tergenang banjir, ratusan jembatan telah putus dan rusak. Dampak siklon tersebut juga telah merobohkan tower listrik dan mengganggu internet di Aceh, menjadikan sebagian Aceh terisolir baik transportasi dan komunikasi.

Peta Sebaran Hujan 25 - 26 Nov 2025

Pada tanggal 27 November 2025, sudah sampai informasi video Bupati Aceh Tengah melaporkan begitu parahnya kondisi di pedalaman Aceh Tengah. informasi menjadi sangat sulit didapatkan karena tiadanya listrik dan internet. Di beberapa bagian Aceh seperti Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang belum diperoleh kabar. Pada tanggal 29 November 2025, Copernicus dari Uni Eropa akhirnya merilis citra satelit Sentinel 2A mereka dan dapat dilihat gambaran kondisi betapa luasnya genangan banjir di Aceh. Menggunakan citra yang sama, longsor hebat juga terlihat dengan jelas terjadi di punggung-punggung bukit dan gunung di pedalaman hutan Aceh, seolah dicabik-cabik, runtuh porak poranda di hulu sungai Aceh. Berbagai pemberitaan akan dampak banjir di Aceh dan juga terjadi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah muncul di media berita nasional dan online.

Banyak silang pendapat tentang penyebab begitu parahnya dampak banjir kali ini. Banji ini bukan banjir biasa, yang hanya membawa air. Namun banjir kali ini juga membawa banyak sekali material lumpur dan kayu. Sebelumnya berita hanya mengabarkan tumpukan kayu di Sumatera Utara. Namun akhirnya tumpukan kayu di Aceh akibat banjir ini juga ditemui terjadi seperti di Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Pada tanggal 20 Desember 2025, Yayasan HAkA berkesempatan melakukan pemantauan lapangan lapangan langsung dengan menggunakan drones.  Kami mendapatkan tumpukan kayu seperti lautan di Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Lautan kayu baik besar maupun kecil menghampar di sungai, permukiman dan kebun warga. Sudah ada beberapa beko yang berusaha mengatasi timbunan kayu tersebut. Beberapa anggota tim HAkA yang masuk dan naik ke lautan kayu tersebut terlihat sangat kecil bila dibandingkan kayu-kayu tersebut.

Geudumbak ini berada di pinggir dari Sungai Jambo Aye, bagian hilir DAS Jambo Aye sebagai daerah tangkapan air yang cukup luas. Hulu dari DAS ini membentang luas sampai Isaq, Linge, Pondok Baru, Simpang Tiga Redelong, dan Samar Kilang. Intensitas hujan yang ekstrim beberapa hari tersebut telah membuat longsor hutan-hutan di sekitar Samarkilang. Jauh sebelum bencana ini datang, kegiatan pembukaan jalan yang memasuki kawasan hutan juga sudah terpantau di sekitar Samarkilang. Yayasan HAkA telah rutin turut memantau hutan Aceh, terutama di Kawasan Ekosistem Leuser di Aceh sejak 2015. Kami telah melihat betapa kerusakan hutan terus terjadi meski tren laju kerusakannya telah berhasil diturunkan dari sekitar 21 Ribu hektar per tahun di 2015 menjadi 9 Ribu hektar di 2023. Namun kami melihat peningkatan di 2024 kemarin menjadi 10 Ribu dan diprediksi meningkat lagi di 2025 ini. Kerusakan hutan terjadi dalam kawasan hutan maupun di area penggunaan lain (APL). Yayasan HAkA telah mendesiminasikan temuan kerusakan hutan ini kepada berbagai pihak terkait.

Menurut lembaga penelitian World Resources Institute (WRI) menyebutkan bahwa faktor utama penyebab terjadinya banjir adalah deforestasi, topografi dan cuaca ekstrem. Faktor pertama : deforestasi. Kalau kita melihat data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), secara historis Aceh telah terdeforestasi, beralih fungsi lahan sebesar sekitar 600.000 hingga 700.000 hektar sejak 1990 hingga 2024. Itu belum menghitung hutan yang terdegradasi, kalau melihat data citra satelit historis Google Earth 1984 hingga 1990-an - masa HPH,  hutan-hutan di Aceh ini dan terutama di bagian timur (hulu dari DAS yang banjir sekarang ini) telah mengalami degradasi di era tersebut. Jalan-jalan logging nampak jelas mencabik-cabik hutan untuk mengambil pohon-pohon terbesar dan terbaiknya. Pohon purba yang telah tumbuh lama telah diambil dari hutan Aceh. Sekali pohon-pohon tersebut diambil, ada yang menyebut hutan telah rusak. Butuh berapa ribu atau juta tahun lagi untuk pulih. Faktor kedua : topografi. Menurut data Digital Elevation Model (DEM) yang digunakan untuk melihat kemiringan lereng, maka 47 % daratan Aceh ini sangat curam dan curam. Kondisi lereng sangat curam dan curam ini berada di bagian tengah Aceh, yang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Barisan. Bentuk DAS di Aceh juga cukup mendukung terjadinya banjir. DAS Tamiang memiliki tangkapan air yang sangat luas, bahkan meliputi beberapa kabupaten. DAS Jambo Aye yang bermuara ke Aceh Utara merupakan salah satu DAS yang sangat luas dan berbentuk botol. Faktor ketiga : cuaca ekstrim. Dengan adanya anomali fenomena siklon tropis Senyar ini telah menghantam Aceh dengan dahsyat, menimbulkan hujan ekstrim sampai lebih 400 mm per hari dan bahkan mencapai 700 mm dalam 2 hari tanpa henti di Karang Baru menurut data BMKG.

Aceh telah biasa dengan banjir, seluruh Kabupaten dan kotanya pernah terjadi banjir. Bahkan sejak jaman Belanda pun sudah ada banjir. Meski hutan Aceh secara persentase masih cukup bagus yakni 55 persen, secara ironis ternyata Aceh langganan banjir. Banyak yang menyebut Aceh harus memiliki tata ruang yang bagus setelah bencana besar ini. Hulu dari Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen adalah hutan-hutan dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). HAkA secara konsisten terus menyuarakan agar KEL diperhatikan dan diakomodir dalam dokumen penataan ruang maupun dokumen perencanaan pembangunan. Namun sayangnya ada upaya untuk menghapus keberadaan KEL dalam dokumen RPJM Aceh maupun dalam revisi RTRW Aceh. Semoga dengan kejadian ini, kita semua dapat sadar akan pentingnya menjaga hutan tersisa. Kami tetap mengharap KEL dapat diperhatikan dan diakomodir dalam setiap tata ruang dan pembangunan di Aceh. Kalau kita tidak dapat menghindar dari cuaca ekstrem dan topografi yang rentan banjir. Namun kita tetap dapat menjaga hutan. Kita sebagai manusia dapat berusaha untuk bahu membahu semua pihak melindungi hutan tersisa. Bahkan kalau bisa menghutankan kembali daerah yang telah beralih fungsi agar kita dapat menghindari atau setidaknya memperkecil dampak kejadian bencana di masa depan. Mencegah kerusakan hutan dengan melihat contoh nyata dampak mengerikan dari banjir ini. Apa yang terjadi saat ini sudah tidak sama dengan sebelum terjadi bencana. Semoga Aceh dapat segera pulih kembali dan pembangunan Aceh kedepan mengarusutamakan perlindungan hutan untuk kesejahteraan kehidupan masyarakat Aceh itu sendiri.

Kontak Person:
Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh
Email: rajamulkan@haka.or.id

Lihat Galeri Foto : Gelondongan Kayu Sisa Banjir di Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara

Posted in
Siaran Pers

Admin HAkA

Postingan Terkait