- 10 April 2026
- Komentar Dinonaktifkan pada Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia: Kearifan Lokal, Keberanian Kolektif di Tengah Ancaman Rawa Singkil
Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia: Kearifan Lokal, Keberanian Kolektif di Tengah Ancaman Rawa Singkil
Setiap tanggal 6 April, Indonesia memperingati Hari Nelayan Nasional. Peringatan ini pertama kali dicanangkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, tepatnya melalui Keputusan Presiden. Dengan menetapkan tanggal 6 April sebagai hari nelayan adalah dedikasi untuk para nelayan Indonesia, kelompok masyarakat yang selama berabad-abad menjadi tulang punggung ketahanan pangan bangsa, namun kerap luput dari perhatian kebijakan. Hari Nelayan menjadi simbol ganda rasa syukur atas limpahan hasil laut dan sungai yang menghidupi bangsa, sekaligus pengingat bahwa perjuangan para nelayan masih jauh dari kata selesai.
Di balik semangat peringatan itu, ada fakta yang sering terlupakan bahwa “nelayan” bukan sebuah kata yang tunggal maknanya. Ia mewakili jutaan wajah, jutaan kisah dan jutaan cara manusia bertahan hidup di pinggir air. Dari nelayan laut dalam di Sulawesi hingga nelayan rawa di pedalaman Aceh, dari perahu bermotor hingga bubu bambu yang dipasang di sungai berlumpur keberagaman itu adalah kekayaan yang sesungguhnya.
Dengan demikian, bukan hanya perayaan. Ia adalah undangan untuk melihat lebih dalam kepada mereka yang bekerja dalam senyap, yang tangannya memegang jaring sebelum fajar, yang nafkahnya bergantung pada deras atau surutnya air. Tahun ini, undangan itu membawa kita ke sebuah teluk kecil di ujung barat Sumatera, ke sebuah desa bernama Teluk Rumbia, di Aceh Singkil tempat di mana 194 perempuan membuktikan bahwa semangat hari nelayan bukan monopoli siapa pun.
Desa Teluk Rumbia sebuah desa kecil yang namanya diambil dari pohon rumbia yang tumbuh subur di sekelilingnya. Desa ini dialiri oleh anak-anak Sungai Singkil, salah satu sungai terpanjang di Aceh, yang membawa kehidupan sekaligus misteri dalam arusnya yang tenang namun dalam. Lele sungai tumbuh besar di perairan gambutnya. Udang sungai berlimpah di antara akar-akar pohon yang terendam. Di antara semua kekayaan itu, ada manusia-manusia tangguh yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem ini bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penjaga.
Inilah lanskap tempat kisah Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia bermula. Sebuah kisah yang tidak bisa dipahami tanpa terlebih dahulu memahami tanahnya, airnya dan cara hidup yang tumbuh dari keduanya.
Mengenal Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia
Di sebuah desa yang dikelilingi pohon rumbia dan dialiri sungai gambut, sebuah kelompok lahir dari kesadaran kolektif yang sederhana namun kuat, bahwa perjuangan akan lebih ringan jika ditanggung bersama. Pada tahun 2023, Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia resmi terbentuk mengumpulkan 194 perempuan dari Desa Teluk Rumbia, Aceh Singkil, yang selama ini sudah lama bergulat sendiri-sendiri dengan kehidupan di tepi rawa.
Pembentukan kelompok ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) tidak hadir sebagai pihak yang mendikte arah atau menentukan langkah. Peran mereka lebih menyerupai jembatan menghubungkan semangat yang sudah ada dalam diri perempuan-perempuan Teluk Rumbia dengan sumber daya, pengetahuan dan jaringan yang selama ini sulit mereka jangkau sendiri.
Proses pendampingan itu membuka ruang yang sebelumnya tertutup. Para perempuan ini mulai belajar bahwa apa yang mereka lakukan setiap hari bukan sekadar “kegiatan sampingan” melainkan sebuah profesi yang layak diakui, dilindungi dan dikembangkan. Mereka mulai memahami hak-hak mereka sebagai pekerja perikanan. Mereka mulai berbicara tentang masa depan bukan hanya masa depan keluarga masing-masing, tetapi masa depan komunitas dan alam yang menghidupi mereka.
Yang membuat Kelompok Perempuan Nelayan Rumbia istimewa bukan hanya karena ia terdiri dari perempuan atau karena ia terbentuk di kawasan konservasi. Yang membuatnya istimewa adalah kombinasi antara kearifan lokal yang mengakar dan kesadaran baru yang terus tumbuh. Mereka tidak membuang cara-cara lama yang sudah terbukti bubu tetap menjadi alat tangkap utama, pengetahuan tentang musim ikan tetap dihormati dan hubungan dengan alam tetap dijaga. Namun di atas fondasi itu, mereka mulai membangun sesuatu yang baru: identitas kolektif sebagai perempuan nelayan yang bangga, terorganisir dan berdaya.
Nama “Rumbia” yang mereka sandang bukan kebetulan. Pohon rumbia atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Metroxylon sagu adalah tanaman yang seluruh bagiannya bermanfaat. Batangnya menghasilkan tepung sagu yang menjadi bahan pangan. Daunnya dianyam menjadi atap dan kerajinan. Ia tumbuh di rawa, di tanah yang dianggap tidak produktif oleh banyak orang, namun justru di sanalah ia paling subur. Seperti pohon yang menjadi namanya, kelompok ini tumbuh bukan di atas kemudahan melainkan di atas ketangguhan.
Cara kerja bubu mencerminkan kearifan yang diwariskan turun-temurun. Alat ini dipasang di dasar sungai atau di celah-celah akar pohon yang terendam air, di tempat-tempat yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah lama hidup berdampingan dengan rawa. Setelah dipasang, bubu dibiarkan selama satu hingga tiga hari waktu yang cukup bagi ikan untuk masuk namun tidak cukup bagi ikan untuk mati di dalamnya. Ketika tiba waktunya mengambil, tangan-tangan yang sudah terlatih membuka tutup bubu dengan gerakan yang cepat dan terampil, menuangkan isi tangkapan ke dalam ember atau keranjang yang dibawa dari rumah.
Di luar kegiatan menangkap ikan, kehidupan perempuan Teluk Rumbia juga diwarnai oleh kekayaan alam yang tumbuh tepat di halaman belakang desa mereka. Pohon rumbia atau sagu tumbuh melimpah di sekitar desa, menjadi sumber pangan yang sudah lama dimanfaatkan secara tradisional. Batang pohon yang matang dipanen untuk diambil tepung sagunya sebuah proses yang panjang dan melelahkan, namun sudah menjadi bagian dari ritme hidup yang mereka jalani dengan penuh keikhlasan. Tepung sagu itu kemudian menjadi bahan dasar berbagai makanan yang menghidupi keluarga dan belakangan ini, menjadi bahan baku produk baru yang mereka kembangkan bersama.
Konflik Buaya Mengancam Ruang Hidup
Namun ada sesuatu yang berubah di Teluk Rumbia dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya konflik buaya muara di perairan rawa yang selama ini menjadi tempat mereka mencari nafkah. Selama bertahun-tahun masyarakat Teluk Rumbia telah hidup berdampingan dengan buaya dan jarang sekali terdengar konflik antara manusia dengan buaya, frekuensi kemunculan buaya semakin meningkat dan yang lebih mengkhawatirkan konflik antara manusia dan buaya sudah memakan korban jiwa.
Dampak psikologis dari meningkatnya konflik ini terhadap perempuan nelayan tidak bisa diukur hanya dengan angka. Ia merasuk ke dalam keberanian yang selama ini mereka miliki menggerogoti rasa aman yang menjadi prasyarat untuk bisa bekerja dengan tenang. Banyak perempuan yang mengaku kini dua kali berpikir sebelum turun ke sungai sendirian. Ada yang memilih untuk pergi beramai-ramai, saling menunggu dan saling menjaga. Ada yang mengubah waktu kerja mereka, menghindari jam-jam tertentu yang dianggap lebih berbahaya.
Yang perlu dipahami adalah bahwa meningkatnya kemunculan buaya di kawasan permukiman dan area tangkap bukan semata-mata persoalan satwa liar yang “menjadi liar.” Ia adalah gejala dari perubahan yang lebih besar dan lebih struktural. Ketika habitat alami buaya menyempit akibat tekanan pembukaan lahan di kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil, ketika hutan rawa gambut yang selama ini menjadi ruang hidup mereka tergerus satu per satu, buaya tidak memiliki pilihan selain bergerak dan pergerakan itu membawa mereka semakin dekat ke wilayah manusia. Dengan kata lain, konflik ini bukan murni konflik antara manusia dan satwa. Ia adalah konflik yang bermula dari kerusakan ekosistem dan manusialah, dengan segala aktivitas eksploitasinya, yang memulai rantai sebab akibat itu.
Kekayaan Alam Teluk Rumbia
Desa Teluk Rumbia sesungguhnya telah lama menyimpan kekayaan yang belum sepenuhnya disadari potensinya. Pohon rumbia yang namanya bahkan diabadikan dalam nama desa ini tumbuh melimpah di sekeliling pemukiman, menjulang di antara rawa gambut dengan batang yang menyimpan tepung sagu berkualitas tinggi. Selama bertahun-tahun, sagu diolah secara tradisional untuk konsumsi keluarga direbus, dibakar, atau dijadikan makanan pokok pengganti nasi. Pengetahuan tentang sagu sudah ada. Yang belum ada adalah cara untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Di sinilah peran pendampingan menjadi kunci. Melalui serangkaian pelatihan yang difasilitasi bersama HAkA, para perempuan nelayan Rumbia diperkenalkan pada kemungkinan-kemungkinan baru yang selama ini tersembunyi di balik pohon-pohon yang sudah mereka kenal sejak kecil. Pelatihan pembuatan kerupuk berbahan dasar tepung sagu menjadi salah satu titik balik yang paling berarti. Bukan kerupuk sagu biasa melainkan kerupuk dengan perpaduan rasa udang sungai yang juga menjadi kekayaan khas perairan Sungai Singkil. Dua kekayaan lokal yang selama ini berdiri sendiri-sendiri, kini dipadukan menjadi satu produk yang memiliki identitas rasa yang unik dan otentik.
Proses pelatihan itu membuka mata para perempuan ini pada sesuatu yang lebih dari sekadar resep baru. Mereka belajar bahwa bahan-bahan yang selama ini mereka anggap biasa tepung sagu yang diperas dari batang pohon di belakang rumah, udang sungai yang didapat dari hasil tangkapan sampingan sesungguhnya adalah aset. Aset yang jika diolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, bisa berubah menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil dan lebih beragam dari sekadar menjual ikan mentah di pasar lokal.
Produk-produk yang dihasilkan kelompok ini terbagi dalam dua kategori besar: produk olahan pangan dan produk kerajinan tangan. Keduanya lahir dari sumber daya yang sama yaitu alam Teluk Rumbia dan keterampilan tangan perempuan yang telah terasah oleh pengalaman bertahun-tahun. Selain Tepung sagu, daun pandan liar yang tumbuh di sekitar rawa dan pemukiman desa menjadi bahan baku anyaman yang menghasilkan berbagai produk dari tikar, tas, hingga wadah-wadah fungsional yang memiliki estetika khas kerajinan tradisional Aceh.
Di ujung setiap perjalanan panjang, selalu ada harapan yang menjadi alasan seseorang untuk terus melangkah. Bagi perempuan nelayan Teluk Rumbia, harapan itu bukan sesuatu yang abstrak atau jauh di angan-angan. Ia konkret, ia berakar dan ia tumbuh dari tanah yang sama tempat mereka berdiri setiap pagi tanah rawa gambut yang menyimpan kehidupan di setiap lapis kedalamannya.


