FGD Membangun Kesadaran Ekologis dari Sekolah, Komunitas, dan Majelis Taklim
Kesadaran ekologis yang kuat tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi antara institusi pendidikan, komunitas, dan kelompok keagamaan. Untuk mendorong sinergi tersebut, diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Membangun Kesadaran Ekologis dari Sekolah, Komunitas, dan Majelis Taklim” pada 25 Juni 2025 di Taman Budaya Aceh.
Kegiatan yang diprakarsai oleh Teungku Inong, komunitas perempuan binaan Yayasan HAkA, ini menjadi wadah diskusi untuk merumuskan pendekatan-pendekatan yang efektif dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan di tingkat masyarakat. Forum ini juga menegaskan pentingnya peran perempuan dan komunitas lokal sebagai aktor strategis dalam memperluas gerakan pelestarian lingkungan yang partisipatif dan berkelanjutan.

Kegiatan ini menghadirkan tokoh-tokoh seperti Umi Erma, Umi Zalikha, Ustadzah Masyithat, dan Ustazah Regina, serta didukung oleh partisipasi aktif dari berbagai pihak termasuk pimpinan pesantren al-Falah Abu Lam U, Komunitas Berucap, Rumah Pangan Aceh, dan Dayah Samudera Pasai Aceh Besar.
FGD ini melibatkan peserta dari latar belakang yang beragam, mulai dari guru, tokoh komunitas, pengurus majelis taklim, hingga pimpinan pesantren. Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan mengangkat berbagai isu ekologis di tingkat lokal, seperti pengelolaan sampah, degradasi lingkungan, dan minimnya edukasi lingkungan dalam ruang belajar maupun dakwah. Melalui forum ini, peserta bersama-sama memetakan peran strategis masing-masing sektor sekolah melalui penguatan kurikulum dan kegiatan siswa, komunitas melalui gerakan sosial dan advokasi, serta majelis taklim melalui dakwah lingkungan yang kontekstual dan membumi.
Sebanyak 25 peserta (3 Laki-Laki dan 22 Perempuan) turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Melalui FGD ini, Bu-Moe? Fest 2025 menegaskan bahwa kesadaran ekologis yang berkelanjutan perlu dibangun dari ruang-ruang sosial terdekat masyarakat. Dengan mempertemukan pendidikan, komunitas, dan institusi keagamaan, kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membangun gerakan lingkungan yang lebih inklusif, kontekstual, dan berbasis nilai.

