
Penulis: Rizkia Fardilla
Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang pada akhir November 2025 tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu keberlangsungan pendidikan ribuan siswa. Menyadari pentingnya pemulihan sektor pendidikan secara cepat dan menyeluruh, Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) bersama relawan mengambil langkah nyata melalui aksi gotong royong membersihkan sekolah-sekolah terdampak banjir. Kegiatan ini menjadi simbol kebangkitan pendidikan sekaligus wujud solidaritas lintas pihak dalam menghadapi dampak bencana.
Bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi pada 26 November 2025 menyebabkan lumpur tebal menutupi ruang kelas, ruang guru dan fasilitas pendukung di ratusan sekolah di Aceh. Kondisi ini tentu menghambat proses belajar mengajar dalam waktu yang cukup lama. Banyak sekolah tidak dapat segera difungsikan karena keterbatasan tenaga dan peralatan untuk membersihkan sisa lumpur dan material banjir. Situasi ini berdampak langsung pada hak anak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan aman.
Sebagai respons terhadap kondisi darurat tersebut, Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Aceh untuk menginisiasi program gotong royong pemulihan sekolah. Kolaborasi ini tidak hanya mempercepat proses pembersihan, tetapi juga memastikan kegiatan dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas sekolah. Sinergi antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam memperkuat upaya pemulihan pendidikan pascabencana.
Lima Sekolah Terdampak sebagai Prioritas Aksi
Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembersihan difokuskan pada lima sekolah terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu:
- SLB Negeri Pembina Aceh Tamiang
- SMAN 1 Kejuruan Muda
- SMKN 1 Karang Baru
- SMKN 2 Karang Baru
- SMAN 1 Bandar Pusaka
Pemilihan sekolah-sekolah ini didasarkan pada tingkat kerusakan dan urgensi pemulihan agar proses belajar mengajar dapat segera kembali berjalan normal.
Aksi gotong royong ini tidak hanya melibatkan relawan dari Yayasan HAkA, tetapi juga guru, wali murid, dan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Syiah Kuala, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry serta instansi setempat. Keterlibatan berbagai elemen ini mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dalam memulihkan pendidikan. Di Sekolah Luar Biasa Negeri Pembina Aceh Tamiang, wali murid berperan aktif membersihkan ruang belajar anak-anak. Harapan agar anak-anak kembali mendapat pendidikan yang layak menjadi semangat bagi wali murid untuk membersihkan kelas dari tumpukkan lumpur yang sudah setengah mengeras. Sementara mahasiswa KKN bersama volunteer membagi peran menjadi tim untuk membersihkan lumpur di kelas-kelas dan tim bersih-bersih peralatan sekolah yang masih layak digunakan.

Selama periode 10–14 Januari 2026, relawan dibagi ke dalam beberapa tim sesuai dengan lokasi sekolah sasaran. Dengan menggunakan sekop, cangkul, ember dan alat kebersihan lainnya, kami membersihkan lumpur tebal yang menempel di lantai, dinding, meja dan kursi sekolah. Proses ini dilakukan secara intensif dan menyeluruh, memastikan ruang kelas dan ruang guru kembali layak digunakan. Gotong royong memungkinkan pekerjaan berat ini diselesaikan lebih cepat dan efisien.
Selain kegiatan pembersihan, HAkA juga menyalurkan berbagai bantuan penunjang kepada pihak sekolah. Bantuan tersebut meliputi dispenser, galon air minum, botol minum, kaos kaki siswa, dan perlengkapan kebersihan seperti sabun dan alat pel. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pemulihan pendidikan di Aceh Tamiang. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung kebutuhan sekolah dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Penyaluran dispenser dan galon air bersih bertujuan untuk memastikan akses air minum yang higienis dan aman bagi siswa dan guru pascabencana. Selain itu, penggunaan botol minum menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada air minum kemasan sekali pakai, sejalan dengan komitmen Yayasan HAkA dalam mendorong perilaku ramah lingkungan. Sekolah diharapkan dapat menjadi ruang edukasi tentang pentingnya pengurangan sampah plastik sejak dini.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan sekedar tradisi, tetapi juga pondasi penting dalam membangun ketahanan pendidikan menghadapi bencana. Kolaborasi lintas pihak memungkinkan pemulihan dilakukan secara cepat, inklusif dan berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat sekitar, sekolah tidak hanya dipulihkan secara fisik, tetapi juga diperkuat secara sosial.
“Kami berharap kegiatan bersih-bersih dan penyaluran bantuan ini dapat mempercepat pemulihan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah terdampak banjir, khususnya di Aceh Tamiang,” ujar Raja Mulkan, Juru Kampanye Yayasan HAkA. Pernyataan ini menegaskan pentingnya keberlanjutan kolaborasi untuk membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Melalui aksi gotong royong ini, kami percaya bahwa pendidikan dapat bangkit lebih kuat dengan dukungan semua pihak. Pemulihan sekolah pascabencana bukan hanya tentang membersihkan bangunan, tetapi juga memulihkan harapan dan semangat belajar generasi muda.
